H. ASHAR ARIFIN

H. ASHAR ARIFIN

Pemilik CV. Glory Catering

Tukang Jahit yang Sukses di Bidang Kontraktor dan Kuliner

 

“GEMAR MENCOBA SESUATU

YANG BARU DAN MENANTANG”

 

Awal perjalanan karir beliau bermula sebagai tukang jahit yang telah dilengkapi izin-izin yang diperlukanuntukkantorantara lain DRM (DaftarRekananMampu) untuk bidang konveksi dan perlengkapan pegawai. Beliau mendapat oderan  jahitan pakaian seragam dari kantor Diklat PU untuk peserta  Diklat. Karena  pemesan merasa puas akhirnya menjadi langganan setiap ada peserta Diklat baru. Pada suatu hari, Beliau melihat selalu ada kegiatan perbaikan atau pemeliharaan gedung. Lalu beliau mencoba menawarkan diri untuk turut serta. Kembali rejeki berpihak padanya. Beliau diberi kesempatan untuk mencoba mengecat dan harus punya DRM Kontraktor/pemeliharaan gedung meski baru pertama kali mengerjakannya. Pekerjaan beliau dianggap cukup bagus karena memakai tukang yang berpengalaman.

Akhirnya, setiap ada perbaikan atau pemeliharaan gedung di Kantor Diklat PU beliau  diberi kepercayaan sebagai pelaksananya karena sudah terpenuhinya syarat yang ada yaitu DRM. Peluang jeli kembali dilirik H.Ashar ketika beliau merenovasi  ruangan makan dan dapur kantor Diklat PU. Beliau melihat ada kegiatan memasak dimana para peserta Diklat bersantap. Kemudian dengan penuh rasa ingin tahu beliau bertanya dan ujung-ujungnya bermuara pada pertanyaan  seputar catering. Dewi Fortuna tak segan-segannya menghampirinya. Kembali peluang lain pun dicobanya tentunya dengan persyaratan tertentu yaitu adanya DRM. Lagi-lagi beliau berhasil merambah bidang baru tersebut dan lebih bagus ketimbang catering lama terlebih catering yang lama sedang bermasalah dan dibantu adik beliau, Indar Arifin yang banyak pengalamannya dalam melayani Asrama Mahasiswa Unhas (RAMSIS).

PRINSIP H. ASHAR ARIFIN DALAM BEKERJA DAN KIAT SUKSES USAHA KULINERNYA

Dalam menjalankan bisnis cateringnya, H. Ashar Arifin  yang  lahir, Sengkang 24 April 1954, atau tepatnya Amessangang Orai berprinsip bahwa pelayanan dan menu harus dijaga. Jangan ada yang salah. Karena jika ada kesalahan bisa fatal dan tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki. Tidak sama dengan bidang lain kalau ada salah boleh sebentar atau besok diperbaiki atau diganti. Hal ini yang menurut Beliau tidak diperhatikan oleh catering lain. Selain itu, sejak tahun 2005 konsumen yang memesan di atas pesanan tertentu akan diberi kuesioner untuk diisi.

Dengan adanya pengisian kuesioner oleh para pelanggan, anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Arifin Dg Manrafi dengan Hj. Andi Patellongi dapat mengukur puas atau tidak puasnya konsumen. Setelah itu mereka diberi cenderamata berupa paying atau jam dinding berlogo GLORY Catering yang berslogan Rasakan Rasanya, Nikmati Nikmatnya. Ternyata cara ini lebih efektif daripada memasang  iklan di media cetak maupun elektronik. Disamping itu, ditunjang pula oleh fasilitas yang baik dan karyawan yang hampir seluruhnya mendapat sertifikat Higienis dari Departemen Kesehatan dengan Pelayanan Prima.

Mengenai karyawannya, saat ini jumlah karyawan CV. GLORY CATERING termasuk cabang sudah lebih dari 100 orang. Lebih dari separuhnya telah mengikuti pelatihan dan telah mendapat sertifikat higienis dari Departemen Kesehatan. Beliau yang semasa kecil  tinggal di kakaknya Nenek (gadis tua),  menjual kecilan dengan jualan sangat sederhana berupa kue-kue kering, gula tarik (terbuat dari gula merah, yang dalam dua hari harus habis karena jika tidak gula tariknya bisa rusak) dan kacang goreng dibungkus kertas (belum ada plastik) di rumah kampung Amessangeng Orai, kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Kisah Masa Kecil

Saat sekolah di Sekolah Rakyat, beliau sudah terbiasa membawa jualan nenek  ke sekolah, sepulang sekolah menjual tebu batangan, balon, karet mainan (sesuai musim), kacang goreng yang ada kulit, dll. Yang menarik bahwa ke sekolah tidak pakai alas kaki, jadi pulang sekolah memiilih jalan yang ada rumputnya supaya kaki tidak kepanasan.

Jiwa dagang ini terbawa sampai usia remaja, pulang sekolah menjual rokok (itulah  mungkin sampai sekarang tidak merokok karena pertimbangan perhitungan untung rugi) dan kebutuhan sehari-hari lainya. Pada hari minggu jualan di pasar dengan kendaraan bendi/dokar, sampai bercita-cita ingin punya sepeda untuk dipakai menjual. Dan juga Kakak yang sedang kuliah di Makassar selalu mengirimkan tiap minggu/bulan Majalah Prisma dan surat kabar mingguan untuk dijual, (dengan itu pula menjadikan kami gemar membaca).

Bila musim panen padi, ikut ke sawah angkat padi (padi yg sudah diikat, dipikul untuk dikumpulkan) dan mendapat upah padi). Bila Bulan Ramadhan, sorenya menjual es balok yg dipotong-potong, es tersebut harus habis terjual pada hari itu jika tidak mau rugi (karena belum ada namanya frezer),  malamnya (usai buka puasa sampai Shalat Tarwih) jual buah sesuai musim di dekat Masjid.

Setelah Nenek meninggal, kembali pada kedua orang tua, pada saat itu ayah yang kebetulun pintar/tukang menjahit, maka kami belajar menjahit sambil buka kios kebutuhan sehari-hari dikolom rumah (rumah kayu) dengan modal pas-pasan hasil dari usaha sebelumnya. Suatu Saat, ayah sebagai tumpuan kehidupan semua keluarga termasuk kakak tertua yang lanjut sekolah di Makassar, jatuh sakit, akhirnya tanggung jawab keluarga pindah ke saya bersama kakak perempuan (Juhriah Arifin), akhirnya kami putus sekolah di SMEA. Kios pun lama kelamaan tutup habis.

Tahun 1976. Kakak (Anwar Arifin) yang lanjut sekolah di Makassar, sudah sarjana, suatu saat ketemu dengan teman lamanya. Namanya Nasaruddin, katanya punya 1 petak toko di Pusat Pertokoan yang tidak digunakan, Anwar mengabari saya di kampung untuk segera ke Makassar untuk usaha menjahit di toko tersebut.  Disinilah awal terbukanya jalan hidup saya di ibu kota Sulawesi Selatan yaitu Makassar. Tidak punya apa-apa termasuk uang, hanya bermodal pintar menjahit celana panjang saja, tekad ingin merubah kehidupan yang lebih baik dan pengalaman mencari uang sejak kecil dari menjual macam jualan (memerlukan kesabaran trik-trik menjual dan keberanian) dan upah mengangkat/kumpulkan padi (memerlukan kerja keras dan tenaga) sampai menjadi tukang jahit (memerlukan keahlian dan ketelitian serta kedisplinan terutama waktu), tapi yang menjadi poin penting adalah pesan nenek, kalau dikasi jualan untuk berupaya habis harus  terjual dengan tempo 2 hari, begitupun juga Bapak kalau dikasi pagi jahitan celana harus selesai sore. Begitupun juga menjual es Balok, hari itu harus habis. Inilah menjadi inspirasi saya bahwa inilah yang namanya target.

Pusat Pertokoan berlantai dua dan atapnya dijadikan tempat hiburan,  pada setiap lantai terdapat 11 Blok, 1 Blok 8 petak toko,  pada awalnya diperuntukkan hanya Pribumi, tapi lama kelamaan lantai satu 90 % dikuasai non Pribumi (Cina). Lantai II kurang berfungsi,(di sinilah nantinya kami buka penjahitan) lebih banyak toko tutup dari pada yang buka, 90 % pribumi, kalau ada Non pribumi, itupun dijadikan gudang. Lantai III beberapa bar/restoran terbuka hanya pada malam hari (tempat hiburan inilah yang menjadikan lantai dua tidak berfungsi)

Awal Perjuangan Menuju Sukses

“Di Makassar kami mulai buka toko Penjahitan, di Pusat Pertokoan Lantai II (dua) dengan nama Nasha Tailor, bentuk kerja sama saya dengan Nasaruddin, yaitu Nasruddin Punya tempat/Toko dan merek toko yaitu Nasha,  saya pelaksana jahitan dan peralatannya, hasilnya dibagi dua, tidak ada surat perjanjian, hanya kesepakatan lisan antara kakak dengan dia (Nasaruddin), “ungkapnya.

Awalnya kami banyak kesulitan untuk pengadaan peralatan jahit, namun dapat teratasi, Mesin Jahit, gunting malah meteran pun kami dipin-jamkan oleh Tante (saudara ibu yg memang tinggal di Makassar). Hari-hari pertama beliau sendiri yang menjahit,  satu dua lembar celana mulai kami terima, itulah yang menunjang biaya sehari-hari. Suatu saat kami mendapat order peci untuk Mahasiswa Baru dari Akademi Pajak Indonesia, awalnya kami takut terima, karena belum pernah mengerjakan peci yang semacam itu, tapi karena ada contoh maka kami beranikan terima dan mendapatkan panjar, dengan itulah kami cari peci  seperti contoh tsb. Akhirnya kami dapat ditoko Harmonis di Pasar Sentral Makassar peci yang dibeli kami buka, ambil polanya dan ashar arifin sendiri yang jahit, Alhamdulillah, berhasil dengan baik. “Disinilah saya mendapat keuntungan 40 % dari harga.

Inilah menjadi modal awal dalam perjalanan hidup kami. (manfaat dari waktu kecil ditempa dengan usaha dan kerja keras serta mandiri). Di samping tempat penjahitan saya, ada kantor travel dan penjahitan konveksi, di kantor travel tersebut kami melihat pegawainya sibuk mengetik dll., di konveksi banyak jahitan pakaian dinas/kantor dijahit, saya kepingin juga begitu, ada kantor dan ada tempat kerja menjahit. Dengan modal awal (keuntungan dari peci) bukan mesin jahit yang saya beli tapi mesin ketik bekas, dengan mesin ketik inilah kami buat perkenalan ke kantor/instansi baik pemerintah maupun swasta. Akhirnya kami mendapat banyak order, ”tuturnya mengenang.

Ia mengatakan, tahun 1977 pihaknya  dapat order pakaian militer/kodam ribuan pasang melalui  Toko Harmonis, sampai mempekerjakan 50 orang tukang menjahit (kami sudah tidak menjahit lagi, tinggal mengatur saja) melihat penjahitan ini maju Saudara Nasaruddin yang punya toko/tempat datang ikut campur dan malah berusaha menyingkirkan kami, karena melihat sistem yang saya pakai, yang tinggal mengatur saja. Selesai pekerjaan order dari Kodam, Saudara Nasaruddin banyak mencampuri terutama soal penerimaan pembayaran, malah kami tertipu. Sampai akhirnya kami berselisih dan terpaksa meninggalkan toko tersebut.

” Sampai sekarang keuntungan dari order tsb. tidak juga diberikan (karena memang dia yang punya dan tidak ada perjanjian hitam diatas putih, hanya kesepakatan Kakak dengan dia). Kami tersingkir dan meninggalkan tempat itu, tanpa perhitungan bagi hasil. Yang sempat diambil hanya peralatan jahit dan mesin ketik saja. “

Sempat beberapa bulan kami tidak punya tempat, uang hasil kerja selama ini pun nyaris tida ada. Akhirnya kami dapat tempat/toko, juga di Pusat Pertokoan Lantai Dua, tidak jauh dari tempat semula, kami pun mulai kembali dari NOL, dengan segala upaya saya buka  kantor dan penjahitan, kami berikan Nama ASRACO, “ Asraco ini adalah  nama saya yang dibubuhi sedikin eksen Co dibelakang, dengan pengalaman yang lalu kami harus dan selalu bertindak cepat dengan perhitungan yang matang. Tempat baru pun saya buatkan kontrak/perjanjian , (disini lah manfaat pengalaman saya sewaktu kerja sama dengan Nasaruddin, agar tidak tertipu lagi).”

Mulai Tertarik Dengan Organisasi

Karena beliau sudah lebih setahun di kenal di pusat Pertokoan, pada rapat anggota IPERTO (Ikatan Pengusaha Pertokoan) tahun 1979 kami dipercaya menjadi Sekretaris  IPERTO. Mulanya kami kesulitan, dengan dasar pendidikan formal  kurang mamadai untuk menjadi Sekretaris, tapi kami merasa bisa atasi dengan banyak belajar, baca buku, dll. sehingga orang disekitar pusat pertokoan tidak percaya kalau saya itu hanya tamatan SLTP. “Jadi saya harus bergaya berpendidikan tinggi (disinilah manfaat otodidak saya sewaktu menjual majalah dan surat kabar waktu kecil ).”

Mempelajari data yang ada, di sekretariat, ternyata semua anggota/toko di pusat pertokoan, yang besar kepunyaan Non Perbumi, semua lengkap perizinannya, yang Pribumi tidak ada yang memperhatikan kelengkapan perizinan, karena katanya menambah biaya saja, Jadi saya pikir tidak bisa besar kalau tidak ikut cara pikir orang Non Pribumi. “ Tanggal 15 September 1978 Asraco saya jadikan Badan Hukum menjadi CV. ASRACO. Lengkapi semua perizinannya yaitu AKTA NOTARIS, SIUP, TDP, SITU dan DRM (Daftar Rekanan Mampu) bidang Penjahitan/Konveksi dan Pengadaan Perlengkapan Pegawai Golangan Kecil untuk memenuhi persyaratan menjadi rekanan di Instansi Pemerintah, “ujarnya bercerita.

Dengan sisa modal yang terbatas, kami beli  perlengkapan untuk menjahit dan alat kantor,  mesin ketik kumanfaatkan buat perkenalan ke Instansi dengan atas nama CV. ASRACO. Dengan waktu yang relative singkat usaha penjahitan kami maju, sebaliknya  Toko Nasha yang kutinggalkan mulai mundur dan pada akhirnya tutup. Dalam kegiatan priode kepengurusan IPERTO, Kami bersama Ketua dan pengurus lainnya dianggap sukses, akhirnya kami kembali lagi terpilih untuk priode 1983-1988 menjadi Sekretaris, IPERTO berganti nama menjadi Perhimpunan Pengusaha Pusat Pertokoan (HIMPUSTOK), keberhasilan kami dalam mengurus HIMPUSTOK, KAMAR DAGANG INDONESIA (KADIN). “Menilai saya bisa dan mampu mengurus organisasi Pegusaha sejenis yang akan membuka cabang untuk Sulawesi-Selatan,”katanya.

Pada tahun 1984 kami diangkat dan dilantik menjadi Sekretaris Persatuan Industri Barang Jadi Indonesia (PIBTI) Sulawesi Selatan oleh Baramulih yang pada saat itu dia Ketua Umum PIBTI Pusat. Sebagai perusahaan yang lengkap perizinannya terutama DRM. Banyak Instansi yang kami kerjakan pakaian seragam/dinasnya, termasuk Kantor Diklat PU, Jalan Nuri, (tahun1986)  karena kami jaga kualitas jahitan dan hubungan kerja yang baik, sehingga menjadi langganan tetap. Semua pakaian seragam, jacket peserta Diklat (Pendidikan dan Latihan) semuanya dipercayakan pada untuk mengerjakannya.  Tiga tahun jadi langganan penjahitan. “Suatu saat saya melihat ada perbaikan/pengecatan gedung dikantor tsb. Saya kemudian bertanya pada orang kantor, siapa yang mengerjakan itu?, katanya itu adalah kontraktor pemeliharaan gedung, saya langsung menawarkan diri bisa ikut berpartisipasi bidang itu, awalnya kami tidak dipercaya, “ katanya.

 Seorang penjahit mana bisa jadi kontraktor, karena kami bisa meyakinkan akhirnya kami diberi kesempatan, tapi harus punya DRM Kontraktor golongan kecil, karena setiap badan usaha bisa dapat DRM dua bidang maka CV ASRACO saya tambah bidangnya, yaitu DRM bidang Kontraktor, (1988) maka kami dicoba beri pekerjaan pengecatan dll., seperti halnya penjahitan yang saya jaga kwalitas dan hubungan baik, sehingga kami jadi rekanan tetap. Disamping Penjahitan berkembang dengan baik, kontraktor pemeliharaan gedung di Kantor Diklat PU pun lancar.

“Suatu saat tetangga kami, di Pusat Pertokoan punya anak berpengalaman dalam bidang cesh credit, mengajak saya buka cash kredit  khusus Jas, saya bilang belum punya cukup modal untuk itu, katanya gampang, kami punya teman di BPD (Bank Pembangunan Daerah) Sul-Sel. Asal ada jaminan sertifikat bisa dapat kredit,  Saya tertarik ajakan ini, awalnya kami kesulitan dapat sertifikat, dikeluarga tidak ada yang mau meminjamkan, untung seorang penjahit saya punya sertifikat kebun, dan mau meminjamkan maka itulah yang jadi jaminan di Bank hingga mendapat kredit Rp.25 juta. Usaha cash kreditpun saya mulai, dengan  menagernya Agus (anak tetangga tadi) tiga bulan saya pasarkan baru Rp 5 jutaan dana terpakai, akhirnya, manager manyarankan seperti Colombia yang mencicilkan elektronik.”

 Dari pada dana tertinggal, kami setujui. Dengan waktu sebulan saja dana habis malah masih butuh tambahan lagi, jadi kami pinjam ditoko. Ternyata angsuran pembayaran tidak sesuai harapan, bulan kedua-ketiga mulai macet, bulan keempat  macet total, kewajiban dibank dan ditoko pun tidak bisa lagi kami penuhi, untuk menjaga naba baik mobil Cerry saya gadaikan untuk membayar utang/kewajiban baik di Bank maupun pada Toko-toko Elektronik tempat kami dipecaya/dipinjamkan. Akibatnya kami jatuh/habis modal (bangkrut).

Pada saat itu pula, di Kantor Diklat PU kami diberi pekerjaan pemeliharaan gedung bagian Ruang makan dan dapur, disitulah kami melihat peserta Diklat makan. “Saya lalu bertanya lagi pada orang kantor, yang dibelakang itu (ruang makan & dapur) kegiatan apa? Katanya itu adalah Catering, saya tanya lagi apa itu catering?, katanya itu adalah pengusaha yang menyediakan konsumsi untuk peserta Diklat, dan punya juga DRM bidang Jasa boga/catering, spontan saya bilang saya juga mau ikut berpartisipasi bidang itu, katanya catering yang sekarang bekerja ada masalah, jadi segera buat DRM,” tuturnya.

DRM (Daftar Rekanan Mampu) segera saya buat dengan nama Perusahaan CV TAMACO, (14 Oktober 1991). Tamaco adalah bahasa bugis, yang artinya ‘Masuk’, direkturnya adik saya Mukhtar Arifin, Pada saat itu pula catering yang dipakai Di Kantor Diklat dikeluarkan dan kami dipanggil untuk dicoba. Pada saat kami dicoba, saat itu pula puncak krisis keuangan kami, peralatan dapur dan makan belum punya dan uang pun tidak ada, untung kami punya kepercayaan dari toko-toko di Pusat Pertokoan yang kebanyakan Non Pribumi. Antara lain pemilik Toko Batik Keris, Yanto Wilar, punya anak mantu, toko alat peralatan dapur dan rumah tangga, atas rekomendasinya kami bisa pinjam apa yang kami butuhkan. Kebetulan juga Adik Indar Arifin, yang  di Unhas banyak pengalaman member makan di Asrama Mahasiswa Unhas (RAMSIS), dialah yang membantu kami kelola Catering. Percobaan berhasil baik, sehingga kami menjadi pelaksana tetap penjedia konsumsi peserta Diklat.

“Suatu saat saya ditanya orang kantor Di Diklat PU, kenapa belanjaan pak Ashar selalu naik becak, dimana mobil Cerrynya, saya jawab ada dibengkel (padahal saya gadai) karena selalu ditanyakan maka saya berusaha menghubungi  tempat  mobil di gadai bahwa saya perlu mobil saya, dengan cara apa agar saya bisa memakai mobil itu?, akhirnya kami diberi sewa per minggu. (jadi mobil sendiri disewa untuk menjaga Citra usaha), Adik saya yang direktur CV Tamaco, melihat keadaan saya tersebut akhirnya meninggalkan saya dan dia ke Jakarta, tapi sebelumnya kami buatkan akte perubahan, Direktur beralih ke  Istri sebagai Direktris CV TAMACO.”

Melayani Konsumsi Diklat, tidak seperti Rumah makan yang habis makan bayar, tapi cara bayar Diklat ialah nanti setelah selesai Diklat (bisa 2 mingu, 1 bulan, bisa juga 2 bulan) baru berita acara pembayaran dibuat, seminggu barulah uangnya keluar, jadi kami sangat kesulitan modal untuk belanja hari-hari, terpaksa cari cara dengan memanfaatkan kepercayaan toko/teman Non Pribumi di Pusat pertokoan.

Beliau hubungi pemilik Batik keris Yanto Wilar (yang sudah banyak membantu peralatan Catering) kebetulan juga memiliki banyak petak toko Di Pusat Pertokoan lantai satu yang disewakan, saya meminta sewa satu petak toko untuk buka toko Kain (bahan Jas dan Celana), dan kami diberi satu petak lengkap dengan lemari dan kami buka Toko/Show Room Jas dengan nama Glory Internasinal Tailor, nama Glory inipun strategi saya, karena semua Toko tetangga disekitar merupakan orang Cina, maka saya pilih nama Glory yang notabene berbau Cina namun bisa juga dibahasa bugiskan yang artinya Perbaiki. setelah itu kami hubungi  teman Non Pribumi laninya, yaitu Toko Aneka Textil dan Toko Nusantara untuk mengisi toko saya dengan kain bahan jas dan celana, kainnya dipinjam 3 sampai 4 bulan. Alhamdulillah dengan cara ini kami bisa mengatasi keuangan Catering, dengan putaran keuangan, yaitu setiap hari omzet toko Glory dipinjamkan ke bag. Keuangan Catering. Tiba saat penerimaan pembayaran Diklat, pinjaman Catering dibayar kembali ke toko Glory untuk kemudian membayar harga kain di Toko Aneka Textil dan Nusantara.

Alhamdulillah dengan waktu yang tidak terlalu lama dari hasil Catering, semua utang bisa terbayar dan mobil bisa kami bebaskan. CV Tamaco kemudian dipercaya mengerjakan semua penyediaan makan peserta diklat PU, termasuk banyak Instansi lain yang Diklatnya dilaksanakan di Kantor Diklat PU. Antara lain Diklat Penerangan, Kehutanan, BPKP, LAN, dll. Khusus LAN, karena merasa pelayanan kami cukup baik maka kami diberi kesempatan juga melayani Konsumsi di Kantornya, jalan Andi Pangeran Pettarani Makassar.

Pada bulan Desember 1993 kami mendapat pekerjaan pengadaan konsumsi di Kantor LAN (Lembaga Administrasi Negara) Republik Indonesia, Sul-Sel. Namun, karena ada CV Tamaco sudah melayani Konsumsi Diklat LAN dikantor Diklat PU, maka CV Tamaco tidak bisa di Kantor LAN, itu peraturannya. Untuk itu segera saya buat perusahan Catering baru dengan nama CV GLORY (3 Desember 1993), perizinannya pun saya lengkapi terutama DRM bidang Jasa Boga  (Setiap badan usaha boleh memiliki DRM dua bidang usaha, Jadi bidang usaha CV Glory kami buat dua; Pengadaan Perlengkapan pegawai/Konveksi dan Jasa Boga golongan Menengah) Direkturnya saya.

Dalam perjalanan waktu rupanya masyarakat Kota Makassar mulai mengenal namanya Catering, setelah Kepala Diklat PU menikahkan anaknya di gedung IMMIM,(salah satu gedung yang besar/resentativ untuk acara Pengantin) dan Glory catering dipercaya untuk pelayanan konsumsinya, Alhamdulillah, sukses, mulailah kami memikirkan untuk pelayanan luar (selain Diklat). Beberapa kali melayani acara pernikahan di Gedung-gedung tempat acara, jadinya Glory lebih cepat dikenal banyak kalangan/orang daripada Catering CV Tamaco, maka Catering Glory yang focus mengerjakan pesanan luar.

Tahun 1995, kami lewat KPR kami beli rumah di Jalan Hertasning, Griya Panakukang Indah, di kompleks ini kami dipercaya menjadi pengurus Masjid (Masjid Babul Iman) sebagai Sekretaris Umum. Pada tahun 1995 banyak kantor-kantor memerlukan jasa Cleaning Service, karena CV Tamaco baru memiliki satu bidang usaha yaitu DRM usaha Jasa Boga/Catering Cervice Golongan kecil, maka saya buatkan juga DRM bidang usaha Cleaning Service, selalu ikut tender, dan ditahun 1997 baru dapat pekerjaan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, karena tidak ada pengalaman banyak tentang pengelolaan Cleaning yang mengelola lebih seratus pekerja akhirnya kami mendapat kerugian dibidang ini, lagi-lagi gagal, bersamaan itu pula Pusat Pertokoan terbakar habis, Toko Glory dan kantor dan penjahitan ikut terbakar, untung usaha Catering berjalan lancar, jadi saat itu kami mengelola enam bidang usaha secara bersamaan dengan pikiran ingin jadi kolongmerat kecil, ternyata tidak semudah yang saya pikir.

“Disinilah saya focus di Catering saja. Dengan fokusnya saya di catering membuahkan hasil yang signifikan, Contraktor saya hentikan, juga toko Glory dan penjahitan yang memang mulai menurun omzetnya karena serbuan pakaian bekas Cakar (Cap karung)akhirnya juga saya tutup. Apalagi Cleaning service juga saya hentikan, “ujarnya lagi.

Tahun 2004 kami bangun Dapur khusus Catering satu atap dengan kantor,dengan investasi milyaran rupiah di Jalan Rumah Sakit Islam Faisal XII no 08, tidak lama kemudian Masjid Di Kompleks Faisal juga mempercayakan saya untuk jadi Sekretaris Yayasan Masjid Al-Mushawwir. Tahun 2009 kami bangun lagi dapur yang lebih besar dengan perlengkapan/peralatan modern juga di Jalan Rumah Sakit Islam Faisal no 14 dengan rencana membuat pusat Laboratorium Boga, yang bisa dikunjungi dan dijadikan tempat pendidikan/Diklat, investsi lebih 3 milyar Glory Sudah dikenal baik dimasyarakat, baik di Kota Makassar maupun di Daerah-daerah.

Omzetnya makin menanjak, apalagi dengan dikelola dengan banyak sentuhan keagamaan, sebagai seorang Muslim dengan sendirinya sentuhan Agama Islam, yaitu Shalat Tahajjud, Shalat Duha, Amalan harian dan Zikir yang tidak kalah adalah Sedekah (setelah membaca buku-buku Ippho Santosa. “Ternyata sejak kecil telah banyak yang telah saya lakukan/praktekan, tinggal memperkuat dan menambah action saja yang belum, begitupun buku-buku Ust Yusuf Mansur sangat membatu untuk kelancaran berbisnis), “katanya senang.

Pada awalnya buka catering, pengusaha catering hanya satu dua saja, tapi omzet hanya puluhan juta sebulan, sekarang pengusaha Catering di Makassar saja sudah ratusan, tapi omzetnya sudah ratusan juta malah tembus satu milyar perbulan. Kenapa??. Karena masyarakat sudah mengenal/mengerti tentang Catering, acara arisan saja sudah memakai jasa catering apalagi acara yang lebih besar pasti memakai Catering, dan saya berusaha bagaimana Konsumen merasa bangga kalau memakai jasa kami; catering Glory. Itulah trik-trik dan kiat-kiat yang kuterapkan, sesuai banyaknya pengalaman saya berusaha dari kecil.  Mobil operasional (box) pun makin bertambah menjadi 14 unit  dan karyawanpun sudah lebih dari 150 orang seiring dengan makin bertambahnya umzet/pelanggan.

“Ternyata jiwa bisnis saya masih mempengaruhi saya lagi untuk buat usaha lain selain CATERING  yang sudah cukup maju, yaitu property (2009) karena ada pengalaman dari usaha Kontraktor dulu, kamipun mulai beli tanah/lahan untuk memulai usaha ini, mulanya 12 rumah type besar dan 2 unit type mewah, yang saya buat. Awalnya kami dapat masalah, yaitu masalah tanah, yang baru bisa diselesaikan setelah berbulan-bulan, karena kami atasi dengan penuh kesabaran dan pantang menyerah, akhirnya punya hikmah, yaitu harga yang tadinya kita pasarkan jadi naik sampai 50 %.. sekarang lagi rencana bangun lagi beberapa rumah/ruko.”

April 2010, pihaknya buka Cabang di kota kelahiran saya, yaitu di Kota Sengkang, sekalian kami buka Catering dan Rumah Makan. Ternyata Rumah Makan yang tadinya hanya mendampingi Catering, mendapat respon  dan sambutan/pengunjung yang cukup banyak. Catering dan rumah makan pun sejalan kian maju, khusus Catering di Sengkang dapat menjangkau beberapa Kabupaten, antara lain Kabupaten Soppeng, Bone, Sidrap, Pinrang dan Kota Pare-Pare. Insya Allah sesudah Bulan Ramadhan (September 2012) Usaha Catering dan Rumah Makan akan buka cabang di Kota Pare-Pare,  yang nantinya Catering dapat menjangkau Kabupaten Barru, Pinrang dan Polmas.

Beliau juga sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Terbukti dari adanya perhitungan banyaknya omzet per-bulan selain adanya gaji tetap. Bahkan mulai tahun 2011, ada karyawan yang terpilih ikut umroh. Terhitung sudah ada 3 (tiga) karyawan yang ikut umroh.

“Terakhir, beliau ingin terus menjaga kualitas pelayanan dan menu yang variatif serta cita rasa spesifik Glory Catering yang harus terus  dipertahankan atau ditingkatkan, “imbuh pria yang sekarang  ini telah mendapat 7 (tujuh) penghargaan local maupun nasional, mengakhiri pembicaraan.

 

Kesimpulan :

  1. Dalam usaha/berbisnis diperlukan niat baik dan target pecapain Impian dan cita-cita, Tahan Banting, untuk itu kesabaran dan pengalaman sangat membantu
  2. Jeli melihat Peluang dan berani bertindak/action cepat dan tepat
  3. Doa dan Amalanserta sedekah (keagamaan) sangat menunjang keberhasilan
  4. Modal memang diperlukan dalam berbisnis, tapi tidak kalah pentingnya kepercayaan dan amanah